Senin, 09 Februari 2015

Falsafah semut diatas triplex

Damai Tuhan bersamamu!
Apa kabar?! Sekarang saya akan memberikan lagi sebuah falsafah mengenai iman yang bertentangan dengan postingan sebelumnya. Postingan sebelumnya bisa dilihat diFalsafah hidup katolik: belajar dari makanan.
 Falsafah ini saya buat saat saya mengamati seekor semut diatas triplex,dan saya memikirkan untuk menjadikannya sebuah falsafah.
     Saudara-saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, semut ini kita ibaratkan sebagai iman,dan triplex sebagai dunia jaman sekarang,iblis,ataupun orang lain. Jikalau seekor semut berada diatas triplex,lalu kita goyangkan ke kanan dan kiri,semut itu tetap berada di posisi yang sama. Itulah iman yang benar. Iman yang teguh tidak akan berubah sekalipun menerima godaan dari orang lain ataupun iblis. Dan orang yang memiliki iman yang teguh tersebut pastilah hidupnya damai dan tenteram  karena dekat dengan Tuhan.
     Saudara-saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan,iman yang teguh itu bisa kita dapatkan dari karya pelayanan kita,yang tanpa sadar kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Tugas pelayanan tidak perlu harus siang malam melayani Tuhan di Gereja,tetapi karya pelayanan itu bisa kita mulai dari hal-hal kecil. Dalam injil Lukas dikatakan bahwa jikalau kita setia dalam hal-hal kecil maka kita akan setia pula dalam hal besar. Intinya,pelayanan itu bisa kita mulai dari hal-hal kecil seperti karya penghiburan. Dan karya kecil itu lambat laun akan menjadi besar dan menumbuhkan iman kita. Melayani Tuhan juga bisa melalui sesama kita yang menderita. Tuhan bersabda yang intinya jikalau kita sudah melakukan hal baik pada sesama kita yang menderita,kita sudah melakukannya untuk Tuhan.
     Jadi,semoga kita bisa memiliki iman seperti semut tadi dan kita bisa menjadi pelayan sabda Tuhan yang lebih baik.
Tuhan memberkati!

Minggu, 08 Februari 2015

Falsafah hidup katolik: belajar dari makanan

Rahmat Tuhan kita Yesus kristus,cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus,besertamu! 
Salam sejahtera!, kembali lagi dalam blog renungan injil neo. pada kesempatan ini,saya akan sharing mengenai pengalaman hidup saya,khusunya pada saat makan. 
  
   Belajar dari makanan,itulah judul falsafah ini. Seperti Tuhan pernah menegaskan kalau iman itu bisa bermacam macam ukurannya. Dari yang sebesar biji sesawi hingga yang sebesar pohon sesawai sehingga burungpun bisa membuat sarang di atasnya,artinya iman itu bisa tumbuh dan berguna bagi orang disekitar kita. 
  Makanan yang akan saya jadikan sebuah falsafah adalah pisang panggang keju. Kalau anda bertanya, lho,kok pisang panggang keju? saya menjawab, ya, karena pisang itu melambangkan orang dan keju itu melambangkan iman. Jikalau piring atau wadah yang kita ibaratkan sebagai orang lain itu kita goyang kekanan dan kiri,atas dan bawah maka keju itu dan pisanggnya juga akan ikut bergerak. Malahan keju tersebut akan berhamburan kemana-mana. 
   Saudara-saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan,janganlah kita ikuti si pisang panggang keju tersebut. Iman yang baik adalah iman yang teguh,dan sekalipun digoncangkan kesana-kemari akan tetap setia pada Tuhan. Jangan lah pernah meninggalkan yang namanya itu panggilan Tuhan. Kita diutus untuk membawa damai bagi dunia,dan melayani sesama,dan Tuhan sendiri. Jikalu kedua ajaran itu mau kita laksanakan,maka dasar iman kita harus teguh pula. 
   Maka cara untuk membuat iman tersebut kuat dan teguh,tambahkanlah susu kental manis pada sang pisang keju tersebut sebelum ditaburi keju. Susu kita ibaratkan sebagai rasa penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan. Jikalau kita sudah memiliki rasa pasrah itu,maka kita akan bisa untuk menjaga keteguhan iman kita akan Yesus Kristus.
  Ingat,jangan pernah kawatir pada ketenteraman hidup jikalau kita mau menjalankan firmannya. Tuhan sendiri bersabda bahwa barang siapa yang kehilangan nyawanya demi injil akan memperoleh keselamatan. Juga jangan ragu untuk menjawab panggilan Tuhan pada kita,dengan beralaskan iman pasti kita bisa menjalankan panggilan tersebut sesuai kehendak Tuhan. 
  Sekian sharing dan sedikit renungan dari sya, sampai jumpa pada postingan berikutnya. Tuhan memberkati!

Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya

Kasih karunia ,dan damai sejahtera dari Allah bapa dan dari puteranya Yesus Kristus,besertamu! Perkenalkan nama saya Medaneo wahyu putra wibowo,murid kelas 7 SMPN 98 Jakarta. Pada kesempatan ini saya akan memposting tentang sebuah pelajaran yang bisa kita petik sebagai murid Kristus,dari seorang murid Yesus yaitu Thomas. Bacaan ini diambil dari Yohanes 20:24-29.
Saya akan mengawali renungan ini dari sebuah kisah. Di sebuah desa terdapat seorang kaya raya,namun sayangnya orang kaya ini tidak percaya pada Tuhan. Suatu hari di saat orang kaya ini bosan, ia berjalan jalan sendirian. Dia berjalan hingga malam pun tiba. Dia tidak bisa melihat,lalu tanpq ia sadar ia sudah masuk ke hutan. Di tengah kegelapan itu dia berusaha mencari cari jalan untuk pulang. Tiba tiba kakinya terperosok dan dia pun jatuh kedalam jurang yang sangat dalam. Dia berusaha mencari-cari pegangan untuk ia bertahan. Akhirnya ia mendapatkan sebuah akar sebagai pengangannya.Setelah ia lama berpegangan ia pun merasa lelah. Karena ia sering meliiahat teman temannya berdoa,ia pun mulai mengikuti teman temannya itu. Ia pun berseru pada Tuhan" Tuhan,selamatkanlah aku,jika kau selamatkan aku,aku akan menjadi pengikutmu yang setia". Tuhan pun menjawabnya" Baiklah,lepaskanlah peganganmu!" Orang kaya itu menjawab"Tuhan,apa kau gila? kalau aku melepaskannya,aku justru tidak akan selamat" Tuhan pun diam. Sampai pagi ia bergelantungan. Tangannya pegal,keram dan sakit. Saat pagi tiba, dia pun melihat kebawah,ternyata kakinya hanya tinggal 1/2 meter dari tanah.

     Saudara-saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, dari cerita diatas kita bisa tahu,betapa "nyesek" orang kaya diatas tadi. Sama seperti Thomas dalam bacaan ini. Betapa malunya dia,karena tidak percaya pada kehadiran Tuhan. Apalagi sampai dilihat langsung oleh Tuhan,sampai Tuhan sendiri menunjukan dirinya pada Thomas.
     Saudara-saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan,bagi Thomas mungkin perkataan teman temannya,tidak logis. Sama seperti orang kaya tadi. Namun,apa yang menurut kia "gila" mungkin berbeda dengan pemikiran Tuhan. Apa yang menurut kia jelek belum tentu jelek untuk Tuhan dan sebaliknya. Seperti yang dikatakan nabi Yesaya,dalam Yesaya 55:8" Rancanganku bukanlah rancangan mu,dan jalanmu bukanlah jalanku". Jadi mungkin apa bila dalam hidup ini kita menginginkan sebuah jawaban dari Tuhan mengenai masalah hidup kita sehari-hari,jangan lah protes pada Tuhan jika jawabannya mungkin tidak logis menurut akal kita,namun itulah yang terbaik.
  Semoga,apa yang saya tulis tadi bisa menjadi pencerahan,dalam kehidupan sehari-hari,dan sampai jumpa di postingan berikutnya. Tuhan memberkati!